foto 

Dahulu, sekitar sepuluh tahun lalu, sebelum Facebook “menjajah” dunia media sosial, Friendster-lah yang pertama kali memperkenalkan eksistensi seseorang di dunia maya.

Pada awal 2000-an, gagasan untuk menciptakan profil di jaringan sosial adalah hal yang tidak lazim dan membahayakan bagi kebanyakan orang. Namun, Friendster membawa sisi lain dari Internet. Di sini, setiap orang berwenang mengatur dengan siapa mereka ingin berkenalan, saling terhubung, dan berbagi. Melalui situs ini, setiap orang mulai membuka identitasnya, menjadikan Internet sebagai tempat berinteraksi, sehingga fisik menjadi sirna.

Perintis jejaring sosial itu berdiri pada 3 Januari 2001 dan hingga kini tercatat lebih dari 50 juta orang terdaftar sebagai anggotanya. Angka tersebut hanya sepersepuluh dari total “penduduk” Facebook. Di awal kedatangannya pada 2004, Facebook menyuguhkan suasana berbeda. Facebook membawa iklim yang lebih terbuka dan memiliki keunggulan dalam aplikasi.

Sempat menjadi situs terpopuler pada 2003, lambat laun pamor Friendster meredup. Jika pada 2008 dia pernah menduduki ranking ketujuh sebagai situs yang paling sering dikunjungi, kini, menurut situs penganalisis peringkat website, Alexa, peringkat Friendster terjun bebas ke posisi 1.009. Itu jauh di bawah Sina.com, sebuah website media sosial di Cina, bahkan situs Youporn.com.

Semakin jauh dari puncak situs top dunia, Friendster mulai menepi dengan menggarap layanan di wilayah tertentu. Kekalahan oleh MySpace dan Facebook di Amerika Serikat membuat situs ini “hijrah” ke Asia Tenggara. Di sini, Friendster lebih “dihargai”. Sekarang, lebih dari 90 persen pengguna situs yang bermarkas di Mountain View, California, ini berasal dari Asia.

Seiring dengan redupnya kedigdayaan Friendster, pada 10 Desember 2009, situs ini diakuisisi MOL Global, induk perusahaan penyedia pembayaran digital, MOL AccessPortal Berhad, yang bermarkas di Malaysia dengan nilai US$ 26,4 juta. Sejak itu, Friendster lebih mengedepankan layanan musik dan game. Sekadar informasi, pada 2003 sebenarnya Google sudah “melamar” Friendster dengan nilai US$ 30 juta. Namun, pinangan itu ditolak. Padahal, jika saat itu Friendster mau menerima, nilainya saat ini akan lebih dari US$ 180 juta.

Kemudian mimpi buruk itu datang. Selasa lalu, Friendster mengumumkan akan tutup buku pada 31 Mei 2011. “Kami akan menjadi situs hiburan sosial untuk bermain game dan musik,” kata Ganesh Kumar Bangah, Group Chief Executive Officer Friendster. “Kami juga akan memanfaatkan Facebook Connect.” Akibatnya, situs ini akan menghapus seluruh konten profil jejaring sosial, seperti pesan, komentar, foto, dan postingan blog. Namun, Friendster tetap memelihara akun yang terdaftar. Pengguna yang ingin “menyelamatkan” data mereka dapat menggunakan aplikasi exporter yang bisa diakses di http://apps.friendster.com/exporter.

Kepergian Friendster dari dunia media sosial membuat sebagian orang merasa kehilangan. “Di Friendster, saya pertama kali menulis surat cinta pada musim dingin tahun 2003,” tutur Jim Leija, yang saat itu sedang berpacaran dengan orang yang kini menjadi suaminya, Aric Knuth. Kendati selama empat tahun terakhir wanita 31 tahun ini sudah tidak menengok akun Friendster-nya, ketika mendengar situs ini akan tutup, dia merasa sedih. “Di sana ada memori yang menyimpan tahapan hidup kita.” Keputusan Friendster untuk undur diri dari dunia jejaring sosial sudah final. Kesimpulannya: Facebook menang.

Sumber: Tempointeraktif.com