undefined

Ini alasan kenapa Anda harus berpikir dua kali sebelum ‘bercinta’ di dunia maya. Salah-salah berbuah malapetaka!

Social media telah mengubah relationship. Dulu, Anda menatap layar Facebook dengan cemas ketika si dia tak juga ganti status menjadi ‘in a relationship’ (‘Bukannya kita sudah jadian ya?’, tanya Anda). Sekarang muncul Twitter dan Foursquare. Kalau si dia RT salah satu twit wanita lain, Anda kontan was-was, “Hah? Siapa wanita itu? Kenapa dia RT terus?” Anda klik foto wanita tersebut, dan hati pun mulai berdebar-debar. Mata Anda menelusuri timeline-nya, dan ketika Anda menangkap satu twit yang ditujukan buat kekasih Anda, bertuliskan “@Mark21 LOL! Aku juga suka lagu itu!” Napas Anda pun mulai berburu…tangan mulai panas dingin…dan tiba-tiba ada satu twit lagi: “@Mark21 I’m alone tonight too! ;)” GAAH! Anda mulai mukul-mukul keyboard, membenturkan kepala pada monitor komputer, dan menekan nomor telepon kekasih dengan murka. “Siapa sih @MissDaisy di Twitter kamu? SIAPA?” seru Anda penuh emosi, ‘Kenapa kamu flirt sama dia di Twitter?” Pasangan terdiam. Satu detik, dua detik…Anda berteriak lagi, “Kenapa kamu tidak bisa jawab? Hah? Tega-teganya kamu sama aku ya! Selingkuh lewat Twitter! Aku sudah berikan semua waktu aku buat kamu, aku sudah capai-capai pakai lipstik merah setiap kita kenc…” Si dia tertawa kecil dan menjawab, “Sayang….@MissDaisy itu sepupu aku yang umurnya 11 tahun.”

Disaster. Belum lagi ditambah dengan Foursquare. Ketika pria incaran muncul dengan update ‘I just checked in at Central Mall’, Anda pun bergegas meninggalkan meja dan pergi menuju Central Mall. Ketika Anda melihatnya di sana, Anda berkata ‘Oh, hai! Kamu makan di sini juga toh? Kebetulan sekali!’ Righttttt.

Menurut Thomas Streeter, penulis The Net Effect: Romaticism, Capitalism, and the Internet, semakin sulit bagi seseorang untuk membedakan bagian mana dari relationship yang harus disimpan private, dan mana yang boleh di share dengan publik. Ditambah lagi, semakin besar Anda membangun ‘virtual lifestyle’ di dunia maya, semakin besar pula kemungkinan Anda untuk kehilangan intimasi dengan orang-orang sekitar Anda. “Kita perlu menggaris bawahi batas-batas antara interaksi yang sebenarnya, dengan interaksi secara online. We have to create new habits for defining them,” tutur Thomas.

Tapi sejujurnya, kalau kelakuan Anda memang seperti dua contoh di atas, jangan heran kalau hidup Anda sekarang berubah complicated hanya gara-gara Twitter. Seorang wanita Cosmo harus tahu kalau bergabung dengan social media itu sebenarnya mirip sekali dengan menghadiri sebuah perhelatan sosial. Ada satu peraturan yang mesti dicamkan dalam kepala: BYBB = Bring Your Best Behaviour

1. The Rule of Sharing

Kekasih Anda gorgeous, kaya raya, super romantis…ya ya ya, tapi bukan berarti seluruh dunia harus tahu perasaan Anda terhadapnya. Begitu juga kebalikannya: saat si dia berbuat kesalahan yang bikin Anda sakit hati, membeberkan pada semua followers hanya akan bikin situasi tambah runyam. “Sebelum Anda post sesuatu, coba bayangkan dulu isi post Anda, lalu bayangkan reaksi apa yang akan terjadi setelahnya,” kata Thomas, “kalau Anda memang tak bisa menahan keinginan untuk curhat, lakukan secara anonymous di postsecret.com atau sixbillionsecrets.com.” Atau Anda bisa mengangkat telepon dan bercerita pada sahabat Anda. Simple, and safe.

Do: Share between the lines. Ketika Anda jatuh cinta, kutip saja quote film yang mencerminkan perasaan Anda. Ketika Anda tengah kencan di sebuah restoran yang menurut Anda romantis, isi update Anda dengan detail seputar restorannya, atau menu lezat yang Anda pesan. Jangan hanya menulis, “Lagi makan malam sama @Kevin di (nama restoran). Romantic! I love you so much @Kevin!’. Kedengaran tidak begitu penting, bukan?

Don’t: Oversharing. Ada lho wanita yang suka sekali menulis update setiap lima menit sekali:

Pukul 18.05 : “OMG, dikasih belgian truffles sama @Kevin!”
Pukul 18.10 : “Eating belgian truffles dari my boyfriend @Kevin. My honey is the best!”
Pukul 18.15 : “Yaah, belgian truffles-nya sudah habis…besok kasih lagi ya Sayang @Kevin. Smooch.”
Saran Cosmo, pukul 18.20: Get a life, darling.

2. The Rule of Twitter Display of Affection (TDA)

Memang benar kalau mengekspresikan rasa cinta Anda pada pasangan itu perlu, tapi perhatikan detail yang Anda share pada semua follower. “Di social media, Anda boleh mengumumkan tanggal pernikahan Anda, tapi tidak bagaimana panasnya seks saat malam pertama,” kata Thomas. Kalau memang Anda sangat excited tentang sesuatu yang terjadi ‘tadi malam’, langsung BBM si dia, tak perlu melakukannya via social media. Mudah kan?

Do: Kalau Anda memang ingin memberi tahu betapa hebatnya ia sebagai pasangan, rasanya Cosmo lebih setuju kalau Anda memberikan cubitan kecil pada bokongnya saat tak ada orang yang melihat, dibandingkan menulis di status update, “Tak ada yang bisa melakukannya sebaik @Mario27!”

Don’t: Terlalu banyak detail. “Sayang banget sama @Mario27!”(okay, rasanya semua orang sudah tahu, toh Anda memang pacaran dengannya).
“Thanks for last night @Mario27!” (yuck).
“Thank you for last night @Mario27! I had a superorgasm!” (Superyuck).
“You vibrate my world @Mario27?” (cukup).

3. The Rule of Twitter War

Anda menangkap pasangan balas-balasan twit dengan wanita lain, Anda mulai curiga. Tak cuma itu, mungkin kekasih Anda memang punya banyak penggemar, jadi ia kerap menerima pesan-pesan flirty yang bikin geram. Belum lagi kalau ternyata salah satu dari mereka adalah psycho/stalker; yang menulis updatenya dengan ilusi seolah kekasih Anda adalah pacarnya. Kalau Anda balas ‘menyindir’, ia juga balas ‘menyindir’. Karena emosi, Anda pun kehilangan kontrol, dan mulai menulis kata-kata kasar yang bisa dibaca semua follower. Oh, crap.

Do: Ignore. Abaikan. Act like a lady. Kalau ada wanita pengganggu seperti ini, bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa. Block saja orang tersebut dari timeline Anda, dan minta pasangan untuk melakukan hal yang sama. Anda bisa dibuat terkejut dengan bagaimana seseorang bisa bersikap bak psikopat hanya untuk membuat Anda emosi, tapi percaya pada Cosmo, it’s not worth the consequences.

Don’t: Pertikaian antara dua wanita di Twitter:
@JessH : Kalau mau cari pacar, cari yang lain. Jangan rebut pacar orang #NoMention
@LindaM : Bukan merebut pacar dong kalau kita yang dihampiri duluan #NoMention
@JessH : @LindaM b***h!
@LindaM : Siapa yang jealous, berarti dia yang kalah #NoMention@JessH

4. The Rules of The Ex

Cosmo mau tanya: apakah Anda masih follow mantan, atau bekas pria incaran Anda di Twitter, atau berteman dengannya di Facebook? Jika iya, sedikit berhati-hati dalam bersikap ya, ladies. Membaca status update seorang pria yang pernah berada di kehidupan Anda bisa membuat dunia jungkir balik kalau Anda tidak tahu bagaimana menghadapinya.

Apalagi kalau Anda sebenarnya masih suka, dan merasa tidak rela kalau ia mulai mengirimkan twit romantis buat kekasihnya yang baru. Jangan sampai Anda kehilangan kontrol, dan mulai memicu perang di social media. Seluruh dunia bisa-bisa berpikir kalau Anda adalah seorang psycho ex. That’s so not Cosmo!

Steve Harley, penulis Act Like a Lady, Think Like a Man berujar, ‘The ‘Ex’ Factor adalah sesuatu yang sangat tidak disukai para pria. Kalau pasangan tahu kalau mantan Anda, atau ada pria-pria lain yang ‘menggantungi’ kehidupan Anda, mereka melihatnya sebagai ‘baggage’, and it’s a game over.’

Do: Jangan berbalas-balasan pesan dengan mantan via Twitter, apalagi sekaligus flirting. Pun seandainya Anda (sebenarnya) masih menyimpan feeling untuk pria tersebut, jangan membuat seluruh Twitter mengetahuinya. Apalagi nih, apa yang Anda maksud di status update kadang bisa diartikan berbeda oleh orang lain (online conversation berarti indirect conversation). Apalagi kalau kekasih Anda tahu…runyam nanti.

Kalau ada yang ingin Anda sampaikan padanya, gunakan fitur direct message, atau BBM langsung, atau kalau Anda menemukan kesulitan untuk melupakan si dia, sebaiknya jangan follow mantan Anda di Twitter atau Facebook sama sekali.

Don’t: 3 contoh yang sangat buruk:
@LindaM : LOL. Kamu masih saja corny ya? Jadi kangen. RT @Mario27: Gym time or Gin time? LOL.
@JenniferB kalau @CalvinS lebih suka kencan di rumah. Beda dengan @RikiM yang dulu suka ajak aku jalan-jalan.
@JenniferB I miss you. RT@RikiM akhirnya sampai rumah. Tired!

5. The Rule of Flirting

Satu hal yang patut disyukuri tentang kehadiran social media: menemukan pria baru jadi lebih mudah. The world is your meet market! PDKT juga bisa dibantu oleh Twitter, seperti mengetahui hal-hal apa yang disukainya lewat status update, yang bisa Anda jadikan bahan pembicaraan ketika Anda ingin BBM atau telepon. Dan karena Anda tidak berkomunikasi secara langsung, Anda pun jadi lebih ‘berani’ untuk mengekspresikan apa yang Anda ingin katakan. Ketika ia juga mengirimkan reply yang flirtatious, rasanya dunia ini jadi indah sekali, bukan?

Do: Kalau Anda mengincar seorang pria, gunakan status update-nya di social media hanya sebagai bahan pembicaraan untuk di follow up lewat BBM atau telepon. Kalau ia yang memulai, semisal Anda baru saja upload foto di Twitter dan ia mengirim reply: “@Gio13: @FFF You look pretty in that picture!”, maka Anda boleh membalas “Thanks! :)” and that’s it. Kalau ia mengirimkan reply lagi, segera pindahkan percakapan ke media lain. Jangan terus-terusan memberi comment setiap kali ia menulis status, atau meng-tag berbagai hal di wall-nya. That makes you look like a stalker. Cosmo mengerti kalau Anda ingin terlihat care di matanya, tapi melakukannya di depan ‘publik’ hanya akan membuatnya ketakutan. Kalau ada yang ingin Anda katakan padanya, katakan secara private.

Don’t: Terkesan desperate dalam usaha flirting :
Pukul 19.00 : “Nonton No String Attached, jadi ingat @BenoT.”
Pukul 19.27 : “Soalnya kamu mirip Ashton Kutcher! LOL RT @BenoT : Oh ya, kenapa?”
Pukul 19.31 : “Kapan-kapan kita nonton bareng ya @BenoT?”
Pukul 19.34 : “@BenoT Kok twit aku tidak dibalas sih… :(”

6. The Rule of Twitting (For Every Fun Fearless Female!)

Sebenarnya simpel saja kok. Social media bukanlah sebuah chatting room, apalagi online diary. Kalau memang Anda ingin menjadikannya seperti itu, sebaiknya lock akun Anda, dan (benar-benar) pastikan kalau semua follower Anda adalah orang-orang terdekat. Tapi ingat satu hal: apa yang Anda tulis di Twitter atau Facebook, akan berada di sana selamanya. Suatu saat ini bisa berubah menjadi seperti bumerang; Anda lempar ke dunia maya, kemudian berbalik menyerang Anda.

Seperti kata Thomas di bukunya, social media bisa berubah menjadi sebuah kesalahan fatal ketika Anda mulai menjadikannya sebagai pengganti dari face-to-face sebuah communication. Saat Anda punya dilema kehidupan (who doesn’t?), Anda curhat pada the girls via wall Facebook. Ketika Anda kecewa pada pasangan, Anda marah-marah lewat 140 karakter di Twitter.

Gawat, kan? Gunakan social media untuk interesting thought, atau untuk memberikan opini Anda akan sesuatu (seperti bagaimana rakyat di Mesir menggunakan Facebook untuk reformasi). Tapi kalau sudah menyangkut personal life, segera angkat telepon dan hubungi orang-orang terdekat secara langsung. Jangan ‘buka’ semua kehidupan Anda pada semua orang. Seperti perkataan the elegant lady, Audrey Hepburn, “I think it’s sexy to have a little bit of privacy. Making sure the world stays wondering.”

Sumber: Kapan Lagi.com