Pesan pendek yang isinya cukup panjang lewat BlackBerry beredar ke sejumlah telepon seluler: “Penyebab utama kerusakan hati adalah tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang. Karena, pada pukul 23.00 hingga 01.00 sedang berlangsung detoksifikasi di bagian hati. Jam berikutnya terjadi detoksifikasi di empedu, jantung, paru, dan berujung pagi hari ketika hasil detoksifikasi dibuang lewat air seni atau air besar. Metabolisme yang kacau ini menyumbang penyakit ini.”

Isi pesan itu tentu menjadi kabar buruk bagi yang memiliki kebiasaan tersebut. Namun Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia yang juga dokter spesialis hati Klinik Teratai Rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Unggul Budihusodo, membantah isi pesan itu. “Tidak betul sama sekali, kecuali yang kirim pesan bisa menunjukkan bukti literatur ilmiahnya,” katanya.

Kanker hati bisa muncul, menurut dokter Unggul, karena terjadi sirosis pengerasan atau kerusakan hati dan jaringannya yang menyebabkan penurunan fungsi hati akibat infeksi hepatitis B dan C kronik. Peradangan itu terjadi dalam waktu cukup lama: 15-20 tahun. Virus hepatitis ini menyerang sel di dalam hati dan menggunakan hati sebagai tempat berkembang biak. Ketika tubuh melawan virus ini dengan mengirim limfosit (sejenis sel darah putih) ke hati, terjadilah peradangan.

Menurut ahli hepatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Ali Sulaiman, peradangan hati ini disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C, D, E, dan G. Penyebab lainnya adalah obat-obatan atau racun, alkohol, dan autoimun. Di antara semua jenis virus ini, virus hepatitis B dan C merupakan penyebab infeksi hati menahun (kronik) dan dapat berakhir pada sirosis, kanker hati, dan kematian. Tidak seperti hepatitis A dan B, hepatitis C belum ada vaksinnya.

Hepatitis C, menurut profesor Ali, sudah menjadi pembunuh diam-diam. Apalagi perjalanan virus hepatitis C ini memakan waktu lama, yakni 15-30 tahun. “Sebab, pada tahap awal infeksi, umumnya tidak menunjukkan gejala. Kalaupun ada, hanya ringan dan mirip flu,” ujarnya.

Gejala ringan yang ditimbulkan antara lain agak lemas, mual atau tak nafsu makan, nyeri otot dan persendian, serta rasa tidak enak di dekat hati. Rasa lemas itu juga biasanya dibarengi dengan warna kuning pada mata dan kulit (jaudice) yang hilang-timbul atau menetap serta demam tak terlalu tinggi.

Seseorang bisa tertular hepatitis C atau B melalui kontak dengan darah, seperti donor, suntik, tindik, tato, dan dari alat cukur yang terinfeksi. Sedangkan penularan pada hepatitis B bisa terjadi dari ibu yang menderita penyakit ini, melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan penderita, serta melalui jarum suntik, alat cukur, gunting, kuku, dan alat pribadi yang terinfeksi darah penderita hepatitis.

Hepatitis B dapat dicegah dengan vaksinasi. Sayangnya, saat ini belum ada vaksinasi untuk hepatitis C. Tapi, dengan terapi yang ada, hepatitis C bisa disembuhkan. “Bisa dicegah dengan tiga kali suntikan vaksinasi hepatitis B untuk mendapatkan proteksi jangka panjang,” kata dokter Unggul.

Screening atau pemeriksaan awal juga membantu mengetahui seseorang telah terinfeksi atau tidak. Namun harga untuk screening masih tergolong mahal. “Sekali suntik saja Rp 2 juta, padahal harus rutin selama 48 minggu,” ujar Unggul. Harapannya, vaksin bisa dibuat di dalam negeri dan pemerintah bisa menekan harga sehingga banyak orang tertolong dari penyakit tersebut.

DIAN YULIASTUTI

Tip
Cegah Dini Hepatitis
1. Hindari kontak darah penderita yang terinfeksi dari alat-alat seperti jarum suntik, transfusi produk darah, pemakaian narkoba, dan pisau cukur. Pastikan benar-benar steril.
2. Jangan menggunakan jarum atau peralatan pribadi dari orang yang terinfeksi.
3. Waspadai jarum suntik pada tato atau tindik tubuh.
4. Mencukur di barbershop harus yakin alat pencukurnya benar-benar steril.
5. Lakukan hubungan seks yang aman dan tidak berganti pasangan.
6. Gaya hidup bersih dan sehat.
7. Vaksinasi hepatitis B.

Sumber: Tempointeraktif.com