SOLO – Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Surakarta akhirnya mengumumkan putusan terkait sengketa antara Telkomsel dengan pelanggannya, M Taufik. Pada putusan tersebut Telkomsel diminta untuk mencabut seluruh iklan layanan Blackberry yang dianggap menyesatkan.

Sidang sengketa sudah bergulir sejak sebulan terakhir. Sejumlah persidangan telah dijalani kedua belah pihak yang selalu berlangsung alot. Masing-masing bahkan mengajukan saksi ahli untuk memperkuat argumen masing-masing.
Sayang, hanya saksi ahli dari pihak penggugat yang diakui kapasitas ahlinya. Sementara saksi dari pihak Telkomsel tidak memenuhi syarat untuk dipertimbangkan sebagai saksi ahli.

“Telkomsel membawa saksi ahli dari asosiasi periklanan. Namun karena kapasitasnya yang tidak memadai, serta subjektivitasnya tinggi kami tetapkan pihak yang dihadirkan hanya sebatas saksi, bukan saksi ahli,” kata Wakil Ketua BPSK, Bambang Ary, kemarin.

Menyesatkan

Sebelumnya, operator telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut digugat salah satu pelanggannya lantaran iklan yang dinilai menyesatkan. Pada iklan tersebut dinyatakan tarif layanan Blackberry sebesar Rp 99.000 per bulan unlimited.

Nyatanya, kata-kata unlimited tersebut hanya berlaku untuk beberapa layanan saja. Akibatnya, tagihan pelanggan membengkak hingga lebih dari Rp 1 juta untuk pemakaian Juli dan Agustus.
Karena itu, iklan tersebut dinilai melanggar kaidah bahasa. Oleh BPSK, operator kemudian diminta untuk merevisi materi iklan. Tidak hanya untuk wilayah Solo, melainkan seluruh Indonesia. Baik iklan yang dimuat di media cetak, online, juga televisi. “Ini adalah kasus sengketa yang terbilang berat yang kami tangani. Tidak hanya itu, putusan ini juga berdampak besar,” imbuhnya.

Kendati demikian, gugatan M Taufik tidak dikabulkan sepenuhnya. Penggugat tetap diwajibkan untuk membayar tagihan yang ada. Sebab, pihak operator sebenarnya sudah memberikan peringatan kepada pelanggan. Sayang, peringatan tersebut diabaikan. Tidak hanya itu, gugatan agar Telkomsel mengajukan permohonan maaf di media massa juga tidak dikabulkan.

Atas keputusan ini, Supervisor Corporate Cummunication Telkomsel Area Jawa Tengah dan Yogyakarta, Dito Respati menyatakan masih pikir-pikir. Mereka akan terlebih dahulu mendiskusikan putusan kepada pihak manajemen pusat di Jakarta. Sementara, M Taufik menilai keputusan ambigu, iklan dinilai menyesatkan namun dia masih harus membayar tagihan.

“Kami memberikan waktu hingga 14 hari sejak keluarnya putusan. Kalau salah satu atau kedua belah pihak tidak terima, kasus ini bisa dilimpahkan ke sidang perdata di pengadilan negeri,” tukas Bambang.

Sumber: Suara Merdeka