Di hari kelahirannya, BlackBerry 10 langsung tampil agresif. Di mana lebih dari 70 ribu aplikasi sudah langsung siap sedia untuk mendukung platform anyar BlackBerry tersebut.

Tentu saja, perjuangan BlackBerry — yang sudah berganti nama dari Research In Motion (RIM) — untuk mendekati para developer guna mempersiapkan kelahiran platform BlackBerry 10 tak percuma.

Bahkan di mata developer sendiri, BlackBerry 10 cukup memikat. Terutama untuk urusan kemudahan yang diberikan ketika ingin membuat aplikasi di atasnya.

“Yang pasti develop aplikasi di BlackBerry10 kini jauh lebih mudah, mulai dari infrastruktur dan desainnya jika dibandingkan dengan OS BlackBerry yang terdahulu seperti OS BB 7 dan ke bawahnya,” ujar Vincent Putera, Creative Director Inspira, salah satu developer Indonesia yang ditemuidetikINET di peluncuran BlackBerry 10 di New York, Amerika Serikat.

Memang, tim Inspira yang digawangi Vincent baru saja memenangkan Blackberry Jamhack 2012 Asia pada tahun 2012 lalu. Pun demikian, bukan berarti mereka tak punya pengalaman dalam pembuatan aplikasi Android dan iOS.

“Bahkan bisa dibilang pembuatan aplikasi di BlackBerry 10 juga lebih gampang dari Android dan iOS. Jadi develop mudah untuk pick up, istilahnya development learning curve tidak susah. Kemarin tim saya pas bikin native cukup sebulan, sambil belajar sambil bikin,” lanjut Vincent.

Peluang para developer untuk menangguk untuk dari BlackBerry 10 di Indonesia pun dinilai terbuka sangat lebar. Terlebih, pasar BlackBerry di Tanah Air masih besar.

“Jadi untuk developer Indonesia yang mau bikin aplikasi sangat dianjutkan. BlackBerry 10 juga agresif sekali dengan BlackBerry 10 ini,” kata Vincent.

“Ditambah dengan produknya solid, dari sisi software dan hardware. Tapi masalahnya apakah produknya sudah telat atau belum, padahal jika dirilis tahun lalu itu bakal sangat bagus sekali. Nah inilah yang harus dikejar BlackBerry, yakni untuk menjaga momentum yang telah dibangun selama ini,” ia menandaskan.

Cari Uang dari Aplikasi

Terlepas dari hal tersebut, Vincent menuturkan bahwa para developer lokal jangan patah arang untuk bisa berbisnis dan mendapatkan pemasukan dari pembuaan aplikasi.

Ia menjabarkan, untuk mendapatkan pemasukan dari pembuatan aplikasi itu ada beberapa cara. Pertama atau cara paling sederhana adalah dengan menjual aplikasi tersebut kepada mereka yang mendownload.

Kedua, untuk akses download diberikan gratis tetapi developer bisa menjual point atau item-item terkait aplikasi tersebut.

Ketiga adalah dari iklan, cuma developer harus memastikan bahwa aplikasi mereka harus banyak di-download sehingga dapat meyakinkan pengiklan.

“Ini (bisnis dari iklan-red.) yang masih memungkinkan atau yang mendukung bisnis model yg lebih besar lagi. Seperti Daily Deals, bisnis mereka sudah besar dan apps cuma untuk mendukung bisnis mereka. Tapi kalau mau berbisnis dari aplikasi di Indonesia sudah mendukung,” imbuh Vincent.

Sebab, sekarang akses lebih mudah lagi. Dan operator juga sudah punya carrier billing, tinggal potong pulsa atau lainnya.

“Dan perubahan mata uang di label harga aplikasi — dari dolar ke rupiah — juga mempengaruhi daya beli pengguna. Masih ada faktor mentalitas seperti itu,” pungkasnya.